
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS kembali menguat pada perdagangan Rabu (7/10) setelah risalah rapat Federal Reserve menunjukkan mayoritas pejabat masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Indeks dolar naik sekitar 0,4% ke level 102,15, sementara yield Treasury AS 10 tahun kembali meningkat ke sekitar 5,31%. Kombinasi kebijakan The Fed yang masih ketat dan tingginya yield membuat dolar kembali mendapatkan dukungan.
FOMC Minutes menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan untuk menghadapi inflasi yang belum sepenuhnya terkendali. Pada rapat September, The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Meski pasar sebelumnya telah memangkas ekspektasi kenaikan Oktober setelah data tenaga kerja AS melemah, isi minutes menunjukkan bahwa peluang pengetatan lanjutan belum sepenuhnya ditutup.
Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor pendukung dolar. Brent kembali menembus US$101,50 per barel setelah meningkatnya serangan terhadap kapal di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global. Jika harga minyak terus tinggi, tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dan membuat The Fed lebih sulit untuk melonggarkan kebijakan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menjaga yield Treasury dan dolar tetap tinggi.
Di pasar valuta asing, euro kembali tertekan dan bergerak di dekat level terendah dalam 17 bulan akibat kekhawatiran fiskal Prancis serta ketidakpastian politik di Eropa. Sementara itu, yen melemah ke sekitar 158,38 per dolar meskipun terdapat dukungan dari pernyataan pejabat Bank of Japan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga secara bertahap. Kebijakan fiskal ekspansif Jepang justru menjadi faktor yang membatasi penguatan yen.
Analisa Newsmaker :
Dolar masih memiliki ruang untuk mempertahankan penguatannya dalam jangka pendek selama yield Treasury dan harga minyak tetap tinggi. Namun, pasar tetap perlu memperhatikan data ekonomi AS berikutnya, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja, karena data tersebut dapat mengubah kembali ekspektasi suku bunga. Jika yield kembali menembus level tinggi dan ekspektasi rate hike meningkat, dolar berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, pelemahan data ekonomi dapat mengurangi daya tarik dolar dan membuka ruang koreksi.
Sumber : Newsmaker.id