
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak ditutup melemah pada perdagangan Rabu (7/10), setelah pasar kembali melihat adanya perbaikan arus pasokan dari Timur Tengah. WTI turun 1,3% ke US$88,28 per barel, sementara Brent melemah 0,4% ke US$100,20 per barel. Meski konflik di kawasan masih berlangsung, optimisme bahwa ekspor minyak tetap dapat berjalan membuat tekanan terhadap harga kembali meningkat.
Sentimen bearish semakin kuat setelah pasar menilai pasokan global masih cukup terjaga. Arus pengiriman minyak melalui Timur Tengah yang mulai pulih memberikan keyakinan bahwa gangguan pasokan akibat konflik belum sampai menghentikan aliran minyak secara signifikan. Kondisi tersebut membuat premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga Brent di atas US$100 mulai berkurang.
Namun, penurunan harga minyak tertahan oleh perkembangan di Amerika Serikat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS justru turun 3,2 juta barel dalam sepekan terakhir, berlawanan dengan ekspektasi pasar. Penurunan stok biasanya menjadi sinyal meningkatnya permintaan atau mengetatnya pasokan dan berpotensi memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Selain itu, badai tropis Isaias yang diperkirakan mencapai pantai Teluk AS sebagai badai pada Jumat mulai mengganggu produksi energi. Hingga Rabu siang, sekitar 511.619 barel per hari atau 25% dari produksi minyak Teluk Meksiko AS telah dihentikan sementara. Jika badai berkembang lebih kuat atau mengganggu fasilitas produksi dan distribusi lebih lama, risiko gangguan pasokan domestik AS dapat kembali memberikan tekanan ke atas harga minyak.
Newsmaker melihat, minyak masih berada dalam tarik-menarik antara membaiknya pasokan Timur Tengah dan risiko gangguan produksi di AS. Untuk jangka pendek, Brent berpotensi tetap bertahan di sekitar level US$100 selama konflik geopolitik belum mereda sepenuhnya. Namun, jika arus ekspor Timur Tengah terus pulih dan pelepasan cadangan energi global berjalan sesuai rencana, tekanan terhadap harga dapat berlanjut. Sebaliknya, eskalasi konflik atau gangguan badai yang lebih besar dapat kembali mengangkat premi risiko minyak.
Sumber: Newsmaker.id