
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) melemah setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan. DXY turun kembali ke bawah level 102,00 dan bahkan bergerak di bawah posisi terendah perdagangan Senin.
Pelemahan dolar terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi di Amerika Serikat dan Eropa. Penurunan yield membantu meredakan tekanan biaya pinjaman, terutama di Prancis, sekaligus memberikan ruang bagi mata uang Euro untuk kembali menguat dari posisi terendahnya.
Harga minyak Brent juga turun ke bawah US$98 per barel setelah ekspor minyak dari kawasan Teluk meningkat. Pelemahan harga minyak turut membantu menekan kekhawatiran inflasi, sehingga mendorong yield obligasi di Eropa dan AS bergerak lebih rendah.
Prancis menjadi salah satu negara yang mendapat tekanan lebih ringan dari pasar obligasi. Selisih yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun terhadap obligasi Jerman menyempit menjadi sekitar 1,3 poin persentase, dibandingkan lebih dari 1,5 poin persentase pada Jumat.
Euro, yang memiliki bobot lebih dari separuh dalam perhitungan Indeks Dolar AS, berhasil rebound dari level terendah Senin yang merupakan posisi terlemahnya sejak Mei 2025. Penguatan Euro menjadi salah satu faktor utama yang menekan DXY.
Sebagian besar mata uang yang masuk dalam komponen Dollar Index juga menguat terhadap dolar AS. Pengecualian terjadi pada Yen Jepang dan Franc Swiss, dua mata uang yang biasanya mendapat permintaan ketika investor mencari aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa meredanya tekanan di pasar obligasi serta turunnya harga minyak mulai mengurangi permintaan terhadap dolar AS. Pasar selanjutnya akan mencermati arah yield Treasury dan perkembangan sentimen risiko untuk menentukan apakah koreksi dolar akan berlanjut.
Sumber: Newsmaker.id