
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bergerak melemah pada perdagangan Jumat (2/10) setelah data ketenagakerjaan September menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang lebih rendah dari perkiraan. Indeks dolar (DXY) turun 0,29% ke 101,68, sementara dolar terhadap yen melemah 0,33% ke 157,55 dan terhadap Swiss franc turun 0,49% ke 0,827. Meski terkoreksi setelah rilis data, dolar masih berada di jalur menuju kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.
Laporan Nonfarm Payrolls menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah ekspektasi sekitar 90.000, sementara tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2%. Data tersebut mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai 86%, naik tajam dari 36% sepekan sebelumnya.
Namun, pelemahan dolar masih terbatas karena imbal hasil Treasury tetap berada di level tinggi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun terakhir berada di sekitar 5,191%, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Yield tinggi tersebut tetap memberikan daya tarik terhadap aset berbasis dolar, sementara kenaikan harga minyak juga meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara importir energi seperti euro dan yen.
Di Eropa, tekanan terhadap euro semakin besar akibat kombinasi inflasi yang tinggi, kenaikan yield obligasi pemerintah, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan Italia. Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2002, sementara selisih yield Prancis terhadap Jerman melebar di atas 150 basis poin. Euro sendiri berada di sekitar US$1,1285 dan menuju penurunan mingguan keempat berturut-turut terhadap dolar.
Analisis Newsmaker:
NFP yang lemah memang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tetapi belum cukup untuk membalikkan tren dolar secara keseluruhan. Selama yield Treasury tetap tinggi dan risiko fiskal serta inflasi energi masih membayangi Eropa, USD berpotensi tetap mendapat dukungan. Bagi emas, penurunan ekspektasi rate hike merupakan faktor positif, tetapi yield AS yang masih tinggi menjadi penghambat utama. Sementara itu, EUR dan JPY tetap sensitif terhadap perbedaan kebijakan moneter serta perkembangan harga energi global.
Sumber: Newsmaker.id