
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak melemah pada perdagangan Jumat (2/10) setelah negara-negara G7 mengumumkan rencana pelepasan cadangan minyak mentah dan diesel untuk meredam lonjakan harga energi. Brent ditutup turun tipis menjadi US$102,25 per barel, sementara WTI melemah US$1,76 menjadi US$91,11 per barel. Langkah tersebut menjadi respons terhadap kekhawatiran kekurangan pasokan bahan bakar akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi energi global.
G7 berencana menggelontorkan sekitar 100 juta barel cadangan selama empat bulan ke depan, dengan pelepasan diesel dalam jumlah besar dilakukan pada 20 hari pertama. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan jangka pendek dan mengurangi tekanan pada pasar produk olahan, terutama diesel yang mengalami lonjakan harga akibat gangguan pasokan dari sejumlah wilayah.
Namun, tekanan terhadap harga minyak masih dibatasi oleh risiko geopolitik di Timur Tengah. Arab Saudi dilaporkan tengah mempersiapkan operasi terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman, sementara Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan dengan mengirim kelompok kapal induk tambahan. Ketidakpastian di sekitar jalur pelayaran Laut Merah dan Selat Hormuz tetap menjadi faktor risiko bagi pasokan minyak global.
Amerika Serikat juga masih mempertimbangkan kebijakan terkait ekspor diesel. Pemerintah sebelumnya mendorong negara-negara Eropa untuk melepas cadangan bahan bakar guna mengatasi kekurangan pasokan global. Kondisi ini menjadi penting bagi Eropa karena sekitar separuh impor diesel Uni Eropa pada Agustus berasal dari AS, sehingga pembatasan ekspor Amerika berpotensi memperketat pasar bahan bakar Eropa.
Analisis Newsmaker:
Pelepasan cadangan G7 memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga minyak karena meningkatkan ekspektasi pasokan, tetapi belum menghilangkan risiko geopolitik yang menjadi penggerak utama pasar. Jika distribusi energi membaik, tekanan terhadap inflasi global dapat berkurang dan memberi ruang bagi bank sentral untuk lebih berhati-hati dalam kebijakan suku bunga. Sebaliknya, eskalasi konflik atau gangguan jalur perdagangan dapat kembali mendorong harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi.
Sumber: Newsmaker.id