
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 101,2 pada perdagangan Kamis (01/10) dan mendekati level tertinggi sejak April 2025. Penguatan dolar tetap ditopang oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta kekhawatiran bahwa tekanan inflasi berbasis energi dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. DXY sebelumnya ditutup di sekitar 101,47 dan mencatat kenaikan sekitar 2% sepanjang September.
Kenaikan yield Treasury menjadi salah satu faktor utama yang menjaga daya tarik dolar. Yield Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,3%, sementara tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,64%, dengan keduanya berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.
Namun, tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai berkurang setelah data Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus menunjukkan kenaikan 0,3% secara bulanan, lebih rendah dari perkiraan 0,4%. Core PCE juga hanya meningkat 0,2%, di bawah ekspektasi 0,3%. Secara tahunan, inflasi PCE berada di 3,4%, sementara core PCE mencapai 3,0%, sehingga inflasi masih berada di atas target 2% The Fed.
Data tersebut membuat pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober turun menjadi sekitar 38%, dari sekitar 70% sebelum data PCE dirilis. Meski demikian, kuatnya pertumbuhan ekonomi dan masih tingginya inflasi membuat pasar tetap memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan pada pertemuan berikutnya.
Ke depan, perhatian investor beralih ke data tenaga kerja AS, terutama laporan Non-Farm Payrolls pada Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu penentu penting bagi arah ekspektasi suku bunga setelah PCE memberikan sinyal inflasi yang lebih lunak. Jika pasar tenaga kerja tetap kuat, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat dapat kembali meningkat, sementara pelemahan tenaga kerja berpotensi memperkuat ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga.