
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Rabu (30/9) setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan tekanan harga meningkat lebih rendah dari perkiraan. Indeks dolar turun ke sekitar 101,1, setelah headline PCE naik 0,3% secara bulanan, sementara Core PCE meningkat 0,2%, keduanya berada di bawah ekspektasi pasar.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tanpa harus melakukan kenaikan tambahan dalam waktu dekat. Namun, tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang karena PCE tahunan masih berada di atas target 2%, sementara belanja konsumen AS tetap menunjukkan ketahanan meskipun biaya energi dan kebutuhan lainnya masih tinggi.
Di sisi pertumbuhan, revisi data menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II direvisi menjadi 2,2% dari sebelumnya 1,5%, sementara pertumbuhan kuartal pertama juga mengalami revisi naik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan meskipun berada dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Pasar kini mengalihkan perhatian ke laporan ketenagakerjaan pemerintah AS yang akan dirilis Jumat. Data tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 90.000 pekerjaan dan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi The Fed menjelang pertemuan kebijakan pada 28 Oktober. Penguatan perekrutan perusahaan pada September juga menunjukkan aktivitas ekonomi masih relatif solid.
Newsmaker melihat, pelemahan dolar setelah data PCE mencerminkan berkurangnya tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi belum cukup untuk mengubah gambaran ekonomi AS secara keseluruhan. Jika data pekerjaan Jumat kembali kuat, ekspektasi suku bunga tinggi dapat kembali meningkat sehingga menopang USD dan menekan emas. Sebaliknya, tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja dapat memperbesar peluang kebijakan yang lebih longgar dan memberikan ruang bagi emas serta aset berisiko untuk menguat.
Sumber: Newsmaker.id