
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas (XAU/USD) kembali menguat dan berada di sekitar US$4.184 per troy ounce pada perdagangan Rabu (30/9) setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam. Rebound terjadi ketika imbal hasil Treasury AS mulai turun dari level tertinggi multi-tahun, sementara pasar mencerna sinyal terbaru dari The Fed. Meski demikian, emas masih berada di bawah tekanan setelah mencatat penurunan bulanan yang cukup dalam.
Dari sisi fundamental, penurunan harga minyak membantu meredakan sebagian kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut juga memberikan ruang bagi hasil Treasury untuk terkoreksi dan membuat tekanan terhadap emas sedikit berkurang. Namun, imbal hasil 10 tahun masih berada di atas 5%, sehingga biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil tetap tinggi.
Sentimen terhadap emas juga mendapat dorongan dari pernyataan Presiden Fed New York John Williams yang mengatakan tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga setelah keputusan September. Pasar kemudian memperkirakan ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan Oktober, sementara Williams masih membuka kemungkinan satu kenaikan tambahan jika inflasi belum kembali menuju target 2%.
Meski begitu, pejabat The Fed lainnya masih menyoroti risiko inflasi yang bertahan. Perbedaan pandangan tersebut membuat arah kebijakan moneter AS masih sangat bergantung pada data. Dolar AS juga tetap relatif kuat sehingga menjadi faktor pembatas kenaikan emas.
Fokus utama pasar hari ini adalah data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Data yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendorong kembali imbal hasil dan dolar, sedangkan angka yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran tekanan moneter dan memberi ruang bagi emas untuk melanjutkan rebound.
Analisis Newsmaker: Emas kini berada di fase penting antara peluang rebound dan risiko tekanan lanjutan. Penurunan hasil menjadi katalis positif, namun arah berikutnya sangat bergantung pada PCE dan data tenaga kerja AS. Jika tekanan inflasi mulai mereda, emas berpotensi mendapat dukungan; sebaliknya, data yang kembali panas dapat menghidupkan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. (asd)