
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah sebelumnya terkoreksi tajam, seiring pasar mencermati ketidakpastian negosiasi AS–Iran dan risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Brent berada di sekitar US$98,47 per barel, sementara WTI diperdagangkan di US$93,55 per barel. Pergerakan ini terjadi ketika pemulihan ekspor Timur Tengah mulai mengurangi tekanan pasokan, tetapi risiko geopolitik masih menjaga volatilitas pasar energi.
Salah satu pemicu kenaikan harga adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membantah laporan bahwa Washington siap memberikan keringanan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas kemajuan program nuklir. Di sisi lain, Qatar terus mendorong diplomasi antara kedua negara untuk mencari jalan keluar dari konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Dari sisi pasokan, kondisi mulai menunjukkan perbaikan. Arab Saudi telah kembali melakukan pengiriman minyak dari pelabuhan Yanbu setelah East-West Pipeline kembali beroperasi. Pemulihan jalur alternatif tersebut membantu mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz, meskipun jalur strategis tersebut masih menjadi sumber risiko bagi perdagangan minyak global.
Namun, pasar minyak masih menghadapi tekanan dari tingginya biaya logistik dan ketatnya pasar produk olahan. Pemerintah AS juga mempertimbangkan sejumlah langkah untuk meredam harga diesel domestik, termasuk opsi memperluas penjualan red-dyed diesel. Kebijakan terkait ekspor diesel menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keseimbangan pasokan minyak mentah di pasar AS.
Di Amerika Serikat, data awal American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah naik sekitar 1,02 juta barel pada pekan hingga 25 September. Pasar kini menunggu data resmi Energy Information Administration untuk melihat apakah kenaikan stok tersebut terkonfirmasi dan bagaimana kondisi permintaan energi domestik.
Analisis Newsmaker: Harga minyak saat ini berada di antara dua sentimen utama: pemulihan pasokan dan risiko geopolitik. Jika ekspor Timur Tengah terus kembali normal, tekanan terhadap harga dapat berkurang. Namun, selama negosiasi AS–Iran belum menghasilkan kesepakatan konkret dan Selat Hormuz belum sepenuhnya normal, risiko volatilitas minyak masih tetap tinggi. OPEC+ juga diperkirakan mempertahankan target produksi November dalam pertemuan akhir pekan ini. (asd)