
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (29/9) dengan naik ke level 101,4, memperpanjang kenaikan sebesar 0,2% pada sesi sebelumnya. Pergerakan tersebut membawa dolar AS berada di level tertinggi dalam tiga bulan, didukung oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Penguatan dolar terjadi karena pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan terkait penyelesaian konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun harga minyak bergerak turun pada perdagangan Selasa, kekhawatiran terhadap tingginya biaya energi masih menjadi perhatian karena berpotensi kembali mendorong tekanan inflasi.
Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat juga memberikan dukungan terhadap dolar. Aktivitas ekonomi yang solid membuat investor tetap melihat peluang bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Namun, sejumlah data terbaru mulai menunjukkan tanda perlambatan setelah data lowongan kerja (JOLTS) dan tingkat kepercayaan konsumen AS berada di bawah perkiraan pasar.
Investor kini mengalihkan perhatian kepada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu sebagai indikator inflasi pilihan The Fed serta laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kekuatan ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Pasar swap saat ini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed hampir 1% dalam satu tahun ke depan, mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat masih dapat berlanjut. Sepanjang September, dolar AS telah menguat sekitar 1,8%, meskipun pergerakannya relatif stabil sepanjang kuartal ketiga karena investor masih menimbang risiko inflasi, kondisi ekonomi, dan prospek kebijakan The Fed.
Sumber: Newsmaker.id