
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa setelah sebelumnya mengalami tekanan besar hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan. Kenaikan harga emas terjadi seiring aksi jual obligasi pemerintah Amerika Serikat mulai mereda, meskipun ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) masih membatasi ruang penguatan logam mulia.
Harga emas spot naik sekitar 0,6% ke level US$4.140,21 per ounce setelah sebelumnya anjlok hampir 4% pada sesi Senin. Pergerakan ini terjadi ketika imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5,23%, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam 19 tahun akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Sentimen terhadap emas masih dibayangi oleh kenaikan harga minyak mentah Brent yang telah menguat selama dua hari berturut-turut. Tekanan pasokan energi meningkat setelah pejabat Iran menyatakan keraguan terhadap peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilu sela AS pada November, menyusul penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap pasar obligasi AS juga menjadi perhatian investor. Aksi jual Treasury yang berlangsung sejak konflik AS-Iran meningkat pada akhir Februari semakin intensif dalam beberapa waktu terakhir, mendorong kenaikan biaya pinjaman dan meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menghadapi tantangan karena investor lebih mempertimbangkan daya tarik aset berbasis yield.
Sepanjang September, harga emas telah turun sekitar 7% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sekitar US$4.510 per ounce. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%, sementara investor menunggu data penting seperti Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu dan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya. Jika yield tetap tinggi, area US$4.000 menjadi level psikologis yang kembali diperhatikan pasar.
Sumber: Newsmaker.id