
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah bergerak menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa (29/9), meskipun sebagian kenaikan awal mulai berkurang. Pergerakan harga minyak masih didukung oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat belum adanya perkembangan signifikan dalam diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga Brent crude futures naik tipis 0,1% ke level US$105,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,1% ke sekitar US$92,77 per barel. Sebelumnya, Brent sempat melonjak mendekati US$109 per barel pada sesi sebelumnya sebelum akhirnya ditutup di kisaran US$105 per barel.
Ketidakpastian terkait hubungan AS-Iran kembali menjadi perhatian setelah belum tercapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Mediator Qatar dilaporkan akan melakukan pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran dan pejabat Amerika Serikat terkait revisi proposal tujuh hari yang sebelumnya diajukan Tehran.
Namun, kedua pihak masih menunjukkan sikap hati-hati dan pesimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat, terutama menjelang pemilihan sela Amerika Serikat pada November. Kondisi tersebut membuat investor tetap memperhitungkan adanya risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak juga memberikan dampak terhadap pasar keuangan global karena meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Tekanan harga energi dinilai dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Meski demikian, terdapat tanda pemulihan aliran ekspor minyak fisik dari kawasan Timur Tengah yang dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut apabila kondisi pasokan terus membaik.
Sumber: Newsmaker.id