
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama Group of 10 (G10) pada perdagangan Senin, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat ketidakpastian geopolitik. Investor kembali mencermati ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah belum adanya perkembangan signifikan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak strategis dunia.
Indeks Bloomberg Dollar Spot Index naik sekitar 0,1%, didukung oleh sentimen hati-hati di pasar global. Iran masih mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, namun menegaskan tidak akan melonggarkan sejumlah persyaratan yang telah diajukan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat risiko terhadap pasokan energi global tetap menjadi perhatian investor.
Penguatan dolar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik lima basis poin ke level 5,21%, memperpanjang kenaikan pekan lalu sebesar 16 basis poin. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menghadapi tekanan inflasi.
Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang yang mengalami tekanan terbesar terhadap dolar. USD/JPY naik 0,3% ke level 157,76, dengan pelemahan yen turut dipengaruhi oleh tingginya harga energi karena Jepang mengimpor lebih dari 90% kebutuhan minyak mentahnya dari kawasan Timur Tengah. Pemerintah Jepang sebelumnya juga menyatakan pelemahan yen menjadi perhatian dan telah membahas isu tersebut dengan pihak Amerika Serikat.
Pergerakan mata uang lainnya relatif lebih stabil. AUD/USD naik tipis 0,1% ke 0,7027, didukung oleh kondisi fiskal Australia yang membaik setelah pemerintah melaporkan defisit anggaran yang lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya. Sementara itu, EUR/USD bergerak stabil di 1,1389 dan GBP/USD bertahan di sekitar 1,3245. Ke depan, pasar masih akan fokus pada perkembangan geopolitik, harga energi, serta arah kebijakan The Fed.