
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Nilai tukar yen Jepang melemah mendekati level 158 per dolar AS pada perdagangan Senin (28/09), menghapus sebagian penguatan pada sesi sebelumnya. Tekanan terhadap yen kembali meningkat seiring penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat, di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih dapat memperketat kebijakan moneter untuk menekan inflasi.
Kenaikan yield obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani yen, karena perbedaan imbal hasil antara aset Amerika dan Jepang membuat dolar kembali lebih menarik bagi investor. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan memberikan tekanan tambahan bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi.
Sebelumnya, yen sempat menguat sekitar 1% pada Jumat lalu setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyampaikan bahwa Presiden AS Donald Trump menyoroti pergerakan yen dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pemerintah Jepang juga menegaskan akan terus melakukan koordinasi dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait stabilitas nilai tukar.
Pergerakan yen kembali menjadi perhatian setelah Jepang dan Amerika Serikat melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi pada akhir Juli, yang menjadi langkah pertama sejak 1998. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Jepang masih memantau ketat pelemahan mata uang yang berpotensi meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi domestik.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga mencermati langkah Bank of Japan (BoJ) setelah seorang mantan pejabat bank sentral menyebut bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin dilakukan pada Oktober. Risiko inflasi yang meningkat dapat mendorong BoJ mempertahankan sikap lebih ketat, sementara arah dolar tetap bergantung pada kebijakan The Fed dan data ekonomi Amerika berikutnya.