
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Pound Inggris menguat terhadap dolar AS untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Senin (28/09), dengan GBP/USD bergerak di sekitar 1,3230 selama sesi Asia. Penguatan terjadi ketika dolar AS melemah, meskipun ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat masih meningkat. Investor kini menunggu sejumlah data ekonomi utama AS pekan ini, termasuk data tenaga kerja dan indikator inflasi pilihan The Fed.
Tekanan terhadap dolar berpotensi tetap terbatas karena pejabat The Fed masih memberikan sinyal hawkish di tengah inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September, pasar semakin memperhitungkan kemungkinan pengetatan tambahan apabila pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja tetap kuat.
Dari sisi geopolitik, pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, meskipun ia mengatakan pembicaraan diperkirakan kembali berlangsung pekan ini. Ketidakpastian tersebut menjaga risiko terhadap pasokan energi dan tekanan harga global tetap menjadi perhatian pasar.
Sementara itu, Pound mendapat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran Bank of England (BoE) terhadap dampak lonjakan harga energi pada inflasi Inggris. BoE mempertahankan Bank Rate di 3,75% pada September, namun tiga dari sembilan anggota MPC memilih kenaikan sebesar 25 basis poin. Gubernur Andrew Bailey juga menegaskan bahwa kebijakan dapat kembali diperketat apabila tingginya harga energi berlangsung lebih lama dan meningkatkan risiko inflasi.
Ke depan, arah GBP/USD akan banyak ditentukan oleh perbandingan ekspektasi kebijakan moneter antara The Fed dan BoE. Data tenaga kerja serta inflasi AS yang kuat dapat kembali menopang dolar, sementara tekanan energi yang membuat BoE semakin mempertimbangkan pengetatan kebijakan berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi Pound.