
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (25/9) setelah pasar melihat peluang perkembangan diplomasi antara AS dan Iran yang dapat mengurangi risiko gangguan pasokan global. Harga Brent berada di kisaran US$104,32 per barel, sementara WTI sekitar US$92,41 per barel. Meski mengalami tekanan harian, Brent masih mencatat penguatan tipis secara mingguan, sementara WTI masih berada dalam tekanan akibat kekhawatiran permintaan dan kebijakan energi AS.
Penurunan harga minyak terjadi setelah negosiator AS dan Iran dilaporkan tengah membahas kemungkinan kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik. Rencana tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dengan imbalan pengurangan tekanan ekonomi dari Amerika Serikat. Namun, Iran tetap menegaskan tidak akan memberikan fleksibilitas terkait program nuklirnya meskipun terdapat peluang pembukaan kembali jalur perdagangan energi tersebut.
Selain faktor geopolitik, pasar juga memperhatikan isu kemungkinan pembatasan ekspor diesel Amerika Serikat. Wacana tersebut meningkatkan perbedaan harga antara Brent dan WTI karena investor memperkirakan aktivitas kilang AS dapat berubah jika produksi diesel domestik meningkat akibat larangan ekspor. Kondisi ini membuat pasar energi menghadapi ketidakpastian baru terkait distribusi bahan bakar global.
Di sisi lain, risiko pasokan dari Timur Tengah masih tetap menjadi perhatian. Kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas produksi dan jalur ekspor energi dari salah satu produsen minyak terbesar dunia. Meski demikian, aliran minyak melalui Selat Hormuz masih menunjukkan aktivitas yang relatif stabil dengan volume pengiriman yang tetap tinggi.
Perkembangan geopolitik lain juga menjadi perhatian pasar energi, terutama terkait konflik Rusia-Ukraina. Amerika Serikat mengusulkan pertemuan trilateral antara Ukraina dan Rusia untuk membahas upaya penyelesaian konflik. Jika ketegangan mereda, potensi peningkatan ekspor energi Rusia dapat kembali memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Analisis Newsmaker : Pergerakan minyak saat ini masih dipengaruhi oleh tarik-menarik antara peluang perdamaian dan risiko konflik yang belum selesai. Diplomasi AS-Iran menjadi faktor utama yang menekan harga, sementara ancaman serangan terhadap fasilitas energi dan ketidakpastian kebijakan ekspor diesel AS menjaga risiko tetap tinggi. Pasar masih menunggu bukti nyata terkait pembukaan Selat Hormuz dan stabilitas pasokan sebelum menentukan arah berikutnya.
Sumber: Newsmaker.id