
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (28/9), turun lebih dari 3% dan menembus level US$4.200 per ounce. Pelemahan berlanjut setelah emas mencatat penurunan tajam pada pekan sebelumnya, seiring meningkatnya tekanan dari kenaikan harga minyak, imbal hasil Treasury Amerika Serikat, serta ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan oleh Federal Reserve (The Fed).
Pada pukul 04:58 ET, harga XAU/USD turun 3,3% ke level US$4.146,12 per ounce, sementara kontrak emas berjangka melemah 3,3% ke US$4.178,05. Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya, dengan perak turun 5,12% ke US$61,02 dan platinum melemah 3,2% ke US$1.725,01. Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak naik 0,1% ke level 101,09.
Sentimen negatif terhadap emas semakin kuat setelah harga minyak kembali meningkat akibat ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menyatakan tidak akan melonggarkan persyaratan pembukaan jalur perdagangan energi tersebut, sementara Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran terkait pembukaan kembali jalur strategis itu meski menyebut negosiasi kemungkinan berlanjut pekan ini.
Kenaikan harga energi turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan menjadi faktor penting bagi pasar dalam menilai arah kebijakan The Fed. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menyebut kenaikan imbal hasil Treasury jangka panjang dipengaruhi oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, kekhawatiran terhadap utang pemerintah, serta kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Tekanan terhadap emas juga datang dari pasar obligasi dan penguatan dolar AS. ANZ menilai kondisi makro masih menjadi tantangan bagi emas karena yield yang lebih tinggi dan dolar yang kuat membatasi permintaan. Meski demikian, permintaan melalui exchange traded fund (ETF) emas) masih menunjukkan ketahanan, dengan kepemilikan ETF meningkat sekitar 50 ton sepanjang bulan ini. Investor kini menunggu data inflasi dan ekonomi AS berikutnya untuk menentukan arah kebijakan moneter The Fed.
Sumber: Newsmaker.id