
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS masih melanjutkan penguatannya pada perdagangan Kamis (24/9) dan mencapai level tertinggi dalam dua bulan setelah pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga tambahan. Indeks dolar AS (DXY) naik 0,14% ke level 101,27 setelah sempat menyentuh 101,34, didukung oleh komentar hawkish sejumlah pejabat The Fed, data ekonomi yang solid, serta imbal hasil obligasi AS yang masih berada di level tinggi.
Tekanan terhadap mata uang global meningkat setelah yield Treasury AS kembali menjadi perhatian pasar. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004, sementara yield Treasury 10 tahun berada di level tertinggi dalam hampir dua dekade setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis meningkat disertai tekanan harga yang masih kuat.
Dari sektor tenaga kerja, data terbaru menunjukkan Initial Jobless Claims turun menjadi 197 ribu, lebih rendah dari perkiraan pasar, menandakan kondisi pasar tenaga kerja AS masih stabil. Sementara itu, kenaikan harga minyak sekitar 4% akibat minimnya perkembangan positif dalam negosiasi AS-Iran kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat The Fed.
Sejumlah pejabat The Fed juga mempertahankan pandangan hawkish. Presiden The Fed New York John Williams mengatakan masih masuk akal apabila bank sentral perlu menaikkan suku bunga kembali sebelum akhir tahun untuk menekan risiko inflasi. Pandangan serupa disampaikan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson yang menilai tekanan harga masih membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober kini meningkat menjadi sekitar 64,2%, naik dari 55,4% sepekan sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS sekaligus menekan sejumlah mata uang utama.
Di pasar valuta asing, EUR/USD bergerak melemah ke sekitar 1,1374 di tengah perubahan kepemimpinan Bank Sentral Eropa (ECB). Sementara itu, USD/CHF menguat sekitar 0,4% ke area 0,8280 setelah Swiss National Bank mempertahankan suku bunga tetap, berbeda dengan beberapa bank sentral lain yang masih mempertimbangkan pengetatan. USD/JPY juga naik sekitar 0,3% ke level 158,75, karena yen masih menghadapi tekanan meskipun Bank of Japan sebelumnya telah menaikkan suku bunga.
Analisis Newsmaker: Dolar AS saat ini masih menjadi mata uang yang dominan karena kombinasi antara ekonomi AS yang kuat, yield obligasi tinggi, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, pasar tetap akan memperhatikan data inflasi dan tenaga kerja berikutnya untuk melihat apakah tekanan harga benar-benar membutuhkan kebijakan moneter lebih ketat.
Sumber: Newsmaker.id