
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak melemah pada perdagangan Selasa karena pasar masih mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat dan Iran terkait penyelesaian konflik serta pembukaan kembali jalur energi strategis. Harga Brent berada di kisaran US$96,28 per barel, sementara WTI diperdagangkan sekitar US$93,55 per barel. Ketidakpastian diplomasi masih menjadi faktor utama yang membatasi pergerakan minyak meskipun aliran ekspor dari kawasan Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan.
Investor terus memperhatikan perkembangan pembicaraan melalui mediator antara AS dan Iran. Meskipun terdapat upaya untuk mencapai kesepakatan bertahap, kedua pihak masih memiliki perbedaan pandangan sehingga pasar belum melihat adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat risiko gangguan pasokan energi tetap menjadi perhatian.
Di sisi lain, data menunjukkan ekspor minyak dari sejumlah produsen utama Timur Tengah mulai meningkat. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi kontributor utama kenaikan pasokan, sementara Arab Saudi juga telah memulihkan jalur pipa alternatif yang sebelumnya terganggu. Namun, biaya transportasi yang tinggi dan hambatan distribusi masih menjaga kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan.
Selain minyak mentah, pasar juga memantau kondisi produk energi olahan, terutama diesel yang masih menghadapi tekanan akibat keterbatasan pasokan global. Spekulasi terkait kebijakan ekspor diesel Amerika Serikat turut memengaruhi spread harga minyak global dan meningkatkan volatilitas pasar energi.
Analisis Newsmaker:
Pergerakan minyak saat ini masih berada di bawah bayang-bayang geopolitik Timur Tengah. Pemulihan pasokan memberikan tekanan turun, namun ketidakpastian hubungan AS–Iran tetap menjadi faktor pendukung harga. Pasar akan terus mengamati apakah diplomasi mampu meredakan risiko pasokan atau justru kembali meningkatkan tekanan terhadap harga energi global. (asd)