
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di sekitar level 100,9 pada perdagangan Selasa (29/09), mempertahankan posisi dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Penguatan dolar masih didukung oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali memperketat kebijakan moneter untuk menghadapi tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.
Kekhawatiran terhadap inflasi kembali meningkat setelah harga minyak melanjutkan penguatan akibat ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran. Laporan terbaru menunjukkan pejabat Iran mulai meragukan peluang tercapainya kesepakatan sebelum pemilu sela AS pada November mendatang, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Tehran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selain faktor geopolitik, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan dukungan terhadap dolar. Yield Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun kembali berada di atas level 5%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi serta ekspektasi bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober berada di kisaran 70%, setelah bank sentral AS melakukan kenaikan suku bunga pertama dalam tiga tahun pada awal bulan ini. Gubernur The Fed Lisa Cook juga memperingatkan bahwa peningkatan produktivitas dari teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) mungkin belum cukup untuk mengimbangi tekanan harga dalam jangka pendek.
Ke depan, arah dolar akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi Amerika Serikat serta kebijakan The Fed berikutnya. Investor akan mencermati sejumlah indikator penting, termasuk data inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja, untuk melihat apakah tekanan harga masih membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat.