
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Pasar kripto kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (28/9) setelah kenaikan imbal hasil obligasi global dan ketidakpastian konflik AS–Iran mendorong investor mengurangi aset berisiko. Harga Bitcoin (BTC) bergerak di sekitar US$83.418, melemah setelah sebelumnya mencatat penguatan selama dua pekan berkat optimisme terhadap perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat.
Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus level 5%, tertinggi sejak 2007. Kenaikan imbal hasil terjadi karena pasar memperkirakan bank sentral utama, termasuk Federal Reserve dan Bank of Japan, masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat akibat inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik Timur Tengah turut membebani sentimen pasar. Konflik AS–Iran yang belum menemukan kesepakatan terkait Selat Hormuz serta meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di kawasan tersebut menjaga harga energi tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Pergerakan aset kripto lainnya mengikuti pelemahan Bitcoin. Ethereum (ETH) berada di sekitar US$2.684, sementara XRP, Solana (SOL), Cardano (ADA), dan BNB turut mengalami tekanan akibat aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Sementara itu, sektor memecoin juga melemah dengan Dogecoin (DOGE) dan TRUMP token ikut terkoreksi.
Analisis Newsmaker:
Pasar kripto saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi faktor makro dan geopolitik. Kenaikan yield obligasi membuat aset berisiko kehilangan daya tarik karena investor memiliki alternatif imbal hasil yang lebih menarik di pasar tradisional. Pergerakan Bitcoin berikutnya akan sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi AS, serta apakah tensi Timur Tengah mulai mereda atau kembali meningkat.
Sumber: Newsmaker.id