
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Bitcoin masih mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (24/9) setelah terkoreksi sekitar 4% dari level tertinggi terbarunya. Bitcoin bergerak di sekitar US$83.000–US$84.000, setelah sebelumnya sempat mendekati area US$87.000. Pelemahan ini terjadi ketika kenaikan imbal hasil Treasury AS dan penguatan dolar kembali menekan aset berisiko, menunjukkan bahwa pasar kripto masih sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tekanan utama datang dari lonjakan yield obligasi AS tenor 10 tahun yang kembali berada di kisaran 5,1%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan tersebut dipicu oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan, terutama S&P Global Flash Composite PMI September yang meningkat ke level 58,4, mencerminkan aktivitas bisnis AS tumbuh pada laju tercepat sejak 2021. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Selain itu, kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memperbesar kekhawatiran inflasi. Tekanan harga energi dapat membuat The Fed lebih sulit melonggarkan kebijakan, sementara komentar Gubernur The Fed Michael Barr yang membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan semakin memperkuat sentimen hawkish di pasar.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober berada di kisaran 70%. Jika kenaikan bunga benar terjadi, dolar AS berpotensi semakin kuat dan memberikan tekanan bagi aset digital karena investor cenderung mengalihkan sebagian dana ke instrumen berimbal hasil ketika biaya uang meningkat.
Meski Bitcoin mengalami koreksi, minat institusi masih menunjukkan dukungan terhadap aset kripto. Produk investasi Bitcoin berbasis ETF di Amerika Serikat mencatat arus masuk lebih dari US$2,3 miliar dalam beberapa hari perdagangan terakhir sebelum penurunan terjadi. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi dari investor jangka panjang, meskipun tekanan makro masih mendominasi pergerakan harga dalam jangka pendek.
Pergerakan negatif juga terjadi pada mayoritas aset kripto lainnya. Ethereum (ETH) bergerak di sekitar US$2.650–US$2.700 setelah ikut melemah mengikuti Bitcoin, sementara XRP berada di area US$1,50–US$1,55 akibat investor mengurangi risiko di pasar digital. Solana (SOL) juga mengalami tekanan dan bergerak di kisaran US$110–US$115, sedangkan BNB, Cardano (ADA), dan Dogecoin (DOGE) turut terkoreksi mengikuti sentimen pasar yang lebih defensif.
Analisis Newsmaker: Pasar kripto saat ini menghadapi tarik-menarik antara dukungan arus dana institusi dan tekanan dari faktor makro seperti yield Treasury, dolar AS, serta kebijakan The Fed. Bitcoin masih menjadi pusat perhatian, namun arah seluruh pasar kripto kemungkinan tetap bergantung pada keputusan suku bunga AS dan bagaimana investor merespons kondisi likuiditas global.
Sumber: Newsmaker.id