
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 melemah 0,8% ke bawah level 65.500, sementara indeks Topix turun 1,4% ke sekitar 4.055 pada perdagangan Selasa(29/9). Pelemahan ini memperpanjang tekanan dari sesi sebelumnya akibat kenaikan imbal hasil obligasi global yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter lebih ketat.
Tekanan terhadap saham Jepang mengikuti pergerakan negatif Wall Street setelah yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus 5,2%, sementara yield obligasi 30 tahun berada di sekitar 5,55%. Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa inflasi yang didorong oleh harga energi dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Dari sisi eksternal, harga minyak kembali melanjutkan penguatan setelah muncul laporan bahwa pejabat Iran mulai meragukan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilu sela AS pada November. Ketidakpastian tersebut meningkat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Tehran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kenaikan biaya energi menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan memengaruhi prospek kebijakan moneter. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan terhadap saham-saham yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, terutama sektor teknologi, keuangan, dan konsumer.
Sejumlah saham unggulan Jepang mengalami penurunan, termasuk SoftBank Group yang turun 2,1%, Mitsubishi UFJ melemah 2,5%, dan Toyota Motor terkoreksi 2,7%. Ke depan, investor akan mencermati perkembangan yield global, harga minyak, serta arah kebijakan bank sentral utama sebagai faktor utama yang menentukan pergerakan pasar saham Jepang.(gn)
Sumber: Newsmaker.id