
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang utama pada perdagangan Senin (28/9) setelah investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat dan Iran. Indeks dolar AS (DXY) naik sekitar 0,2% di 101,20, melanjutkan tren penguatan dalam beberapa sesi terakhir karena pasar masih mencermati risiko geopolitik serta prospek kebijakan moneter The Fed.
Penguatan dolar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS. Yield Treasury 10 tahun sempat melonjak ke area 5,27%, sementara kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Dari pasar valuta asing, EUR/USD melemah ke sekitar 1,1369 setelah investor mempertimbangkan komentar Presiden ECB Christine Lagarde yang menilai kenaikan yield dapat membatasi pertumbuhan ekonomi Eropa. Sementara itu, GBP/USD bergerak menguat tipis ke area 1,3257 karena pasar melihat peluang Bank of England tetap mempertahankan sikap ketat jika tekanan inflasi energi meningkat.
Di kawasan Asia, USD/JPY bergerak volatil di sekitar 157,40 setelah Jepang kembali memberikan perhatian terhadap pelemahan yen. Pemerintah Jepang dan AS sebelumnya menyampaikan sinyal kewaspadaan terhadap pergerakan yen yang terlalu lemah, sehingga pasar mulai memperhitungkan risiko intervensi mata uang. AUD/USD melemah tipis ke sekitar 0,7019 setelah dolar Australia menghadapi tekanan dari penguatan greenback, meskipun kondisi fiskal Australia dinilai masih relatif kuat.
Sementara itu, USD/CHF menguat karena franc Swiss kehilangan sebagian daya tarik safe haven setelah investor lebih memilih dolar di tengah kenaikan yield AS. NZD/USD juga bergerak melemah sejalan dengan tekanan terhadap mata uang berisiko akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi dan suku bunga global.
Analisis Newsmaker:
Pergerakan mata uang global saat ini masih didominasi oleh tiga faktor utama, yaitu arah kebijakan The Fed, kenaikan harga energi, dan perkembangan konflik AS–Iran. Selama yield Treasury tetap tinggi dan risiko geopolitik belum mereda, dolar masih memiliki dukungan kuat. Namun, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi global pekan ini yang dapat menentukan apakah bank sentral akan melanjutkan kebijakan ketat atau mulai memberi ruang pelonggaran.
Sumber: Newsmaker.id