
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak Brent kembali bergerak menguat dan berada di sekitar US$98,75 per barel berdasarkan pergerakan chart harian, setelah sempat mengalami volatilitas tinggi akibat perkembangan geopolitik Timur Tengah. Secara fundamental, harga minyak masih mendapatkan dukungan dari ketidakpastian hubungan AS-Iran, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi global.
Dari sisi fundamental, pasar masih mencermati kebuntuan negosiasi antara Washington dan Tehran. Pejabat Iran disebut mulai pesimistis terhadap tercapainya kesepakatan sebelum pemilu sela AS pada November mendatang, setelah Presiden Donald Trump menolak proposal Iran untuk memulihkan lalu lintas penuh melalui Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Namun, tekanan kenaikan harga masih dibatasi oleh upaya Arab Saudi memulihkan distribusi minyak melalui jaringan pipa East-West Pipeline yang tidak melewati Selat Hormuz. Jalur alternatif tersebut dilaporkan telah kembali mengalirkan sekitar 3,5 juta barel per hari, memberikan sinyal bahwa pasar masih memiliki opsi pasokan meskipun risiko geopolitik tetap tinggi.
Secara teknikal, Brent masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami kenaikan tajam menuju area US$107 per barel. Dari indikator Stochastic RSI, terlihat momentum mulai memasuki area oversold yang mengindikasikan adanya peluang rebound jangka pendek. Namun, harga masih perlu menembus kembali area psikologis US$100 per barel untuk mengonfirmasi penguatan lanjutan.
Untuk perdagangan hari ini, area support Brent berada di sekitar US$97–96 per barel, yang menjadi zona penting untuk mempertahankan momentum bullish. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, harga berpotensi menguji kembali resistance US$100–102 per barel. Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat dan support ditembus, risiko koreksi dapat berlanjut menuju area US$94–95 per barel.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran, kondisi pasokan Timur Tengah, serta data persediaan minyak global. Kesepakatan diplomatik berpotensi menekan harga minyak secara signifikan, sementara gangguan pasokan nyata di kawasan dapat kembali mendorong Brent menuju level yang lebih tinggi.(gn)
Sumber: Newsmaker.id