
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak menguat di tengah tarik-menarik antara harapan terbukanya kembali Selat Hormuz dan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Minyak Brent berada di kisaran US$105,28 per barel, sementara WTI diperdagangkan sekitar US$92,60 per barel. Pergerakan pasar masih volatil setelah sinyal diplomasi AS–Iran berubah-ubah, dengan Presiden Donald Trump disebut bersedia memberikan keringanan sanksi serta mencairkan aset Iran jika terdapat kemajuan dalam isu nuklir.
Investor masih berhati-hati karena belum ada kesepakatan konkret terkait penghentian konflik dan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Meskipun pembicaraan melalui mediator terus berlangsung, pasar menilai risiko eskalasi masih tetap tinggi, terutama menjelang pemilu tengah periode AS.
Dari sisi pasokan, pemulihan sebagian aliran minyak Arab Saudi melalui jalur alternatif membantu meredakan kekhawatiran jangka pendek. Namun, tekanan terhadap pasar fisik masih terlihat dengan meningkatnya permintaan terhadap pasokan minyak siap kirim serta kenaikan biaya pengiriman akibat terbatasnya kapal tanker besar.
Selain konflik Timur Tengah, pasar juga mencermati risiko dari gangguan energi lain seperti perang Rusia–Ukraina dan potensi kebijakan pembatasan ekspor diesel AS. Kondisi tersebut menjaga tekanan terhadap harga produk energi, terutama ketika kapasitas penyulingan global masih menghadapi kendala.
Analisis Newsmaker:
Pergerakan minyak saat ini mencerminkan pasar yang masih menunggu kepastian geopolitik. Jika negosiasi AS–Iran menghasilkan kesepakatan dan Selat Hormuz kembali normal, tekanan harga dapat mereda. Namun, tanpa solusi yang jelas, risiko gangguan pasokan masih menjadi faktor utama yang menjaga prospek minyak tetap berada dalam tekanan bullish.
Sumber: Newsmaker.id