
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Pasar saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin (28/9) setelah kenaikan imbal hasil Treasury kembali menekan sentimen investor. Dow Jones turun 0,67%, S&P 500 melemah 0,77%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,92% seiring pasar kembali mengkhawatirkan dampak suku bunga tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi dan valuasi saham.
Tekanan utama datang dari lonjakan yield obligasi AS yang kembali mencapai level tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Yield Treasury 10 tahun menembus 5,2%, sementara yield 30 tahun berada di atas 5,5%, membuat investor mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi.
Sentimen pasar sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Presiden Donald Trump terbuka memberikan keringanan sanksi kepada Iran terkait isu nuklir. Harapan terhadap kemajuan diplomasi tersebut sempat menekan harga minyak dari level tertingginya dan membantu indeks saham memangkas sebagian penurunan.
Sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pemberat utama pasar. Saham AMD, Micron, Amazon, Microsoft, dan Meta mengalami tekanan akibat kekhawatiran kenaikan biaya modal dan valuasi sektor AI. Namun, Nvidia bergerak berlawanan arah dengan kenaikan sekitar 2% setelah mengumumkan tambahan program buyback saham senilai US$150 miliar.
Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk laporan inflasi PCE, data manufaktur, serta laporan tenaga kerja September. Data tersebut akan menjadi faktor utama dalam menentukan apakah The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga atau mulai mengubah arah kebijakan.
Analisis Newsmaker:
Pergerakan Wall Street saat ini menunjukkan bahwa pasar mulai lebih sensitif terhadap kenaikan yield dibandingkan sebelumnya. Meskipun sektor AI masih menjadi katalis utama pertumbuhan saham teknologi, tekanan dari suku bunga tinggi dan inflasi tetap menjadi risiko terbesar. Arah pasar berikutnya akan sangat bergantung pada apakah data ekonomi AS mampu menunjukkan perlambatan tanpa memperkuat tekanan inflasi.
Sumber: Newsmaker.id