
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melanjutkan penguatan pada Selasa (29/9) dan mencatat level tertinggi dalam dua bulan. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%, didukung kenaikan yield Treasury AS. Yield 10 tahun sempat mencapai 5,29%, level tertinggi sejak 2007, sementara yield 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2002.
Penguatan dolar membuat sebagian besar mata uang G10 tertekan. EUR/USD turun hingga 0,5% ke 1,1312, level terendah sejak Mei 2025. Pelemahan euro terjadi meskipun inflasi Spanyol meningkat lebih dari perkiraan dan semakin jauh di atas target 2% ECB, yang justru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
GBP/USD turun 0,2% ke 1,3226, sementara USD/CHF naik 0,3% dan mencatat penguatan selama lima sesi berturut-turut. Pound masih menghadapi tekanan karena investor menunggu perkembangan kebijakan ekonomi Inggris, khususnya terkait pasar tenaga kerja dan kondisi fiskal.
Di kawasan Asia-Pasifik, AUD/USD turun hingga 0,7% ke 0,6966, terendah sejak Juli. Pelemahan terjadi setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi, tetapi memberikan sinyal bahwa pengetatan berikutnya belum tentu dilakukan. Gubernur RBA Michelle Bullock mengatakan kenaikan suku bunga yang telah dilakukan diharapkan cukup untuk memperlambat inflasi.
Sementara itu, yen relatif stabil dan menjadi salah satu mata uang G10 yang paling mampu bertahan terhadap dolar. Pergerakan yen tetap dipengaruhi ekspektasi kebijakan Bank of Japan serta kewaspadaan pasar terhadap potensi langkah pemerintah Jepang untuk membatasi pelemahan mata uang tersebut.
Analisis Newsmaker:
Penguatan dolar saat ini terutama didorong oleh tingginya yield Treasury dan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Meski bank sentral lain juga memperketat kebijakan, kekuatan ekonomi AS dan tingginya permintaan investor terhadap aset Treasury masih menjadi faktor pendukung dolar.
Sumber: Newsmaker.id