
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak turun tajam pada perdagangan Selasa (29/9) dan menyentuh level terendah dalam hampir sepekan. Brent turun sekitar 2% ke US$95,88 per barel, sementara WTI merosot 3,7% ke US$89,20 per barel. Tekanan terjadi karena pasar lebih fokus pada pemulihan aliran minyak dari Timur Tengah dibandingkan minimnya kemajuan diplomasi AS–Iran.
Penurunan terjadi meski Presiden Donald Trump kembali menolak proposal Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Pasar masih mencermati upaya mediator Qatar yang diperkirakan kembali mempertemukan pihak AS dan Iran, meskipun kedua pihak dinilai masih pesimistis mencapai kesepakatan sebelum pemilu midterm AS.
Faktor utama yang menekan harga berasal dari membaiknya pasokan fisik. Data awal Kpler menunjukkan ekspor minyak dari produsen utama Timur Tengah mencapai 12,8 juta barel per hari pada September, tertinggi sejak Februari. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi kontributor utama kenaikan tersebut.
Arab Saudi juga telah memperbaiki jaringan pipa East-West dan kembali meningkatkan ekspor melalui jalur alternatif yang tidak bergantung pada Selat Hormuz. Pemulihan tersebut membantu pasar mengantisipasi sebagian gangguan pasokan yang sebelumnya menjadi sumber kekhawatiran utama.
Di Amerika Serikat, Departemen Energi menawarkan pertukaran hingga 40 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai bagian dari upaya global menambah pasokan setelah konflik Iran. Namun, persediaan SPR AS kini berada di sekitar 283,8 juta barel, level terendah sejak Oktober 1982.
Analisis Newsmaker:
Pasar minyak saat ini menghadapi tarik-menarik antara risiko geopolitik dan pemulihan pasokan. Selama aliran minyak dari Timur Tengah terus membaik, tekanan harga dapat berlanjut meskipun ketegangan AS–Iran belum sepenuhnya mereda. Di sisi lain, gangguan baru terhadap jalur energi tetap menjadi risiko yang dapat kembali mengubah sentimen pasar.
Sumber: Newsmaker.id