
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas (XAU/USD) kembali menguat ke sekitar US$4.200 per troy ounce pada perdagangan Rabu (30/9), melanjutkan pemulihan setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam tujuh pekan. Penguatan didukung pelemahan dolar AS dan yield Treasury setelah data inflasi PCE Amerika Serikat keluar lebih rendah dari perkiraan pasar.
Data dari Bureau of Economic Analysis menunjukkan Core PCE naik 0,2% secara bulanan pada Agustus, di bawah ekspektasi 0,3%. Headline PCE juga meningkat 0,3%, lebih rendah dari perkiraan 0,4%. Secara tahunan, Core PCE berada di 3,0% dan headline PCE 3,4%, keduanya masih di bawah ekspektasi pasar.
Data tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kembali menurun. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin berada di sekitar 37%, turun dari sekitar 70% pada awal pekan. Yield Treasury 10 tahun juga terkoreksi ke sekitar 5,23%, sementara dolar AS melemah dari level tertingginya dalam dua bulan.
Ekspektasi tersebut semakin berubah setelah Presiden New York Fed John Williams mengatakan tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Meski masih membuka kemungkinan satu kenaikan tambahan pada akhir tahun, Williams menilai The Fed memiliki waktu untuk mengamati data ekonomi setelah kenaikan suku bunga pada September.
Di sisi lain, tekanan inflasi dari energi mulai mendapat perhatian baru setelah pasokan minyak Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Arab Saudi kembali meningkatkan pengiriman melalui jalur alternatif, sementara AS menyiapkan pelepasan hingga 40 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve. Perkembangan tersebut membantu meredakan kekhawatiran inflasi berbasis energi, meski risiko geopolitik di Selat Hormuz masih menjadi perhatian.
Analisis Newsmaker: Rebound emas saat ini mendapat dukungan dari kombinasi PCE yang lebih lunak, penurunan yield Treasury, dan melemahnya dolar AS. Namun, inflasi masih berada di atas target The Fed sehingga peluang kenaikan suku bunga akhir tahun belum sepenuhnya hilang. Selanjutnya, pasar akan mencermati data tenaga kerja AS dan perkembangan konflik AS–Iran sebagai katalis utama pergerakan emas. (asd)