
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Poundsterling bergerak mendekati US$1,33 pada akhir September setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam tiga bulan. Penguatan terbaru didukung revisi pertumbuhan ekonomi Inggris yang lebih kuat dari perkiraan, dengan GDP kuartal II 2026 direvisi menjadi 0,5% dari sebelumnya 0,4%. Reuters
Meski demikian, pound masih mencatat pelemahan sekitar 2% sepanjang September terhadap dolar AS. Tekanan terutama berasal dari perbedaan ekspektasi kebijakan moneter, karena pasar menilai Bank of England masih menghadapi dilema antara inflasi yang tinggi dan kondisi ekonomi domestik yang belum sepenuhnya kuat.
Dari sisi kebijakan, Bank of England mempertahankan suku bunga di 3,75% pada September dengan keputusan 6–3. Tiga anggota MPC memilih kenaikan 25 basis poin, sementara mayoritas menilai masih diperlukan waktu untuk melihat dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan upah. Bank of England
Gubernur BoE Andrew Bailey tetap menyoroti risiko inflasi dari kenaikan energi, sementara Alan Taylor menilai kenaikan suku bunga tambahan belum diperlukan saat ini dan bank sentral sebaiknya menunggu bukti bahwa tekanan energi mulai menyebar ke upah dan harga. Bank of England
Di sisi politik-ekonomi, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga membuka pembahasan mengenai hubungan jangka panjang Inggris dengan Uni Eropa. Burnham mengatakan berbagai opsi akan dikaji, termasuk kemungkinan kembali bergabung dengan blok tersebut, meskipun keputusan tersebut masih merupakan bagian dari proses evaluasi kebijakan. Reuters
Analisis Newsmaker: Pound menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan peluang kebijakan BoE yang tetap ketat memberikan dukungan, tetapi dolar AS yang kuat dan ketidakpastian mengenai arah suku bunga masih menjadi tekanan. Selanjutnya, pasar akan mencermati inflasi Inggris, kebijakan BoE, serta perkembangan anggaran pemerintah pada Oktober. (asd)