
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah setelah sempat menguat hampir 2% pada sesi sebelumnya. Brent untuk pengiriman Desember turun ke bawah US$97 per barel, sementara WTI bergerak di kisaran US$89 per barel, seiring pasar menunggu kepastian lebih lanjut mengenai pemulihan arus pasokan minyak dari Timur Tengah.
Tekanan harga muncul karena aliran minyak mentah kawasan tersebut mulai mendekati level sebelum perang. Goldman Sachs memperkirakan sekitar 23 juta barel per hari minyak telah mengalir dari Timur Tengah pada pekan lalu melalui Selat Hormuz maupun jalur alternatif. Kondisi ini memberikan sedikit kelonggaran terhadap pasar fisik dan membuat kekhawatiran mengenai kelangkaan pasokan mulai mereda.
Indikator pasar juga menunjukkan kondisi pasokan jangka pendek tidak seketat sebelumnya. Spread dua kontrak terdekat WTI menyempit menjadi di bawah US$2 per barel, dibandingkan US$4,68 dua pekan sebelumnya. Meski masih berada dalam kondisi backwardation, penyempitan tersebut mengindikasikan tekanan pada pasokan segera mulai berkurang.
Namun, pasar minyak masih menghadapi risiko dari sektor bahan bakar. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan distilat AS berada pada level musiman terendah dalam catatan, sementara stok bensin di wilayah Midwest juga berada pada level terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini membuat kebutuhan kilang terhadap minyak mentah tetap tinggi.
Di sisi geopolitik, ketidakpastian terkait konflik AS-Iran masih menjadi katalis utama. Negosiasi untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan kepastian mengenai pembukaan penuh Selat Hormuz, sementara serangan terhadap jalur energi dan kapal komersial masih berpotensi mengganggu distribusi minyak.
Ke depan, pergerakan Brent dan WTI akan bergantung pada keseimbangan antara pemulihan pasokan Timur Tengah dan ketatnya pasar produk olahan. Jika arus minyak terus meningkat, tekanan terhadap harga dapat berlanjut. Namun, gangguan baru di Selat Hormuz atau kekurangan pasokan diesel berpotensi kembali meningkatkan volatilitas pasar energi.(gn)
Sumber: Newsmaker.id