
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bergerak relatif datar terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Rabu (30/9) setelah data inflasi Amerika Serikat naik lebih rendah dari perkiraan. Dollar Index (DXY) berada di sekitar 101,47, setelah sempat kehilangan sebagian penguatan ketika yield Treasury AS turun merespons data PCE.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan Federal Reserve, naik 0,3% pada Agustus, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 0,4%. Hasil tersebut membuat pelaku pasar kembali mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, dengan probabilitas kini berada di sekitar 37% dari sekitar 70% sepekan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi tersebut terlihat pada pasar obligasi. Yield Treasury AS tenor 2 tahun, yang sensitif terhadap prospek kebijakan The Fed, turun ke sekitar 4,885%. Penurunan yield jangka pendek mempersempit keunggulan imbal hasil dolar dan menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan Greenback.
Terhadap mata uang utama, EUR/USD bergerak di sekitar 1,1330, sementara GBP/USD menguat ke sekitar 1,3265. Dolar relatif stabil terhadap yen di kisaran 157,34, sedangkan USD/CHF menguat ke sekitar 0,8358. Meski demikian, dolar masih berada di jalur mencatat penguatan bulanan terhadap euro, franc Swiss, dan poundsterling.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia melemah ke sekitar US$0,6948, sementara dolar Selandia Baru berada di sekitar US$0,5635. Tekanan terhadap mata uang berisiko masih datang dari tingginya yield obligasi global dan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS berikutnya.
Analisis Newsmaker:
PCE yang lebih lunak menjadi katalis utama yang menahan penguatan dolar karena pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober. Namun, inflasi yang masih berada di atas target The Fed serta harga energi yang tinggi membuat peluang pengetatan tambahan pada akhir tahun belum sepenuhnya hilang. Arah dolar berikutnya akan sangat bergantung pada data tenaga kerja AS, CPI September, dan pergerakan yield Treasury.
Sumber: Newsmaker.id