
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam 16 bulan terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Kamis (1/10), didukung oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga lebih lanjut. Indeks dolar AS (DXY) naik hingga 101,848 pada awal perdagangan Eropa.
Penguatan dolar bertahan meskipun data inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga mulai stabil. Inflasi PCE tahunan turun menjadi 3,4% pada Agustus dari 3,7% pada Juli, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar.
Namun, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menilai data tersebut belum cukup untuk mengubah pemilihan mengenai kondisi inflasi. Menurut Kashkari, tekanan harga masih berada pada level yang tinggi sehingga The Fed tetap perlu mencermati perkembangan inflasi sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Ekspektasi kebijakan moneter ketat membuat dolar AS semakin dominan. Euro turun ke level terendah 16 bulan di sekitar US$1,1286, sementara dolar juga mencapai level tertinggi 16 bulan terhadap franc Swiss di 0,8382 franc. Ketahanan ekonomi AS dan perbedaan tingkat suku bunga dengan negara lain turut menjadi faktor yang menopang mata uang AS.
Meski probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober turun menjadi sekitar 39% setelah sebelumnya berada di 73% sebelum rilis PCE, pasar masih mengisyaratkan adanya beberapa kenaikan suku bunga hingga akhir tahun depan. Data ekonomi AS yang relatif kuat membuat ekspektasi kebijakan ketat The Fed belum sepenuhnya mereda.
Perhatian pasar kini beralih ke laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis Jumat. Data ketenagakerjaan tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Setelah itu, pasar juga akan mencermati data inflasi konsumen AS bulan September pada tanggal 14 Oktober untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
Sumber: Newsmaker.id