
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Australia (AUD) melemah ke sekitar US$0,69 pada perdagangan terbaru dan menyentuh level terendah dalam 11 pekan. Tekanan terhadap mata uang Australia terjadi ketika dolar AS menguat seiring lonjakan imbal hasil Treasury Amerika Serikat, sementara investor mulai mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan Reserve Bank of Australia (RBA) dalam waktu dekat.
Ekspektasi kenaikan suku bunga RBA pada November kini turun menjadi sekitar 20%, dari sebelumnya 36%, setelah data inflasi Australia pada Agustus tercatat sedikit lebih rendah dari perkiraan. Pasar juga mulai melihat kenaikan suku bunga berikutnya lebih mungkin terjadi pada Maret dibandingkan Februari, mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Australia.
Sentimen terhadap AUD turut terbebani oleh data perdagangan Australia. Surplus perdagangan menyusut ke level terendah dalam tiga bulan, menambah tekanan terhadap mata uang tersebut di tengah kondisi eksternal yang kurang mendukung. Sepanjang September, dolar Australia tercatat melemah sekitar 3,1%, seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, dolar AS terus mendapatkan dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Indeks dolar bergerak mendekati level tertinggi dalam sekitar 18 bulan, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini menurun setelah data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan. Yield Treasury yang berada pada level tinggi tetap menjadi daya tarik bagi aset berbasis dolar.
Pergerakan AUD selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan ekspektasi kebijakan RBA dan kondisi ekonomi Australia, sekaligus arah dolar AS serta pasar global. Tingginya harga minyak akibat ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat dan Iran juga tetap menjadi perhatian karena dapat memperkuat tekanan inflasi global dan memengaruhi sentimen terhadap mata uang komoditas seperti dolar Australia.