
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas berbalik melemah pada perdagangan Jumat (2/10) setelah sempat melonjak lebih dari 1% menyusul rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Spot gold kemudian kembali turun sekitar 1% dan berada di kisaran US$4.145 per troy ounce, menghapus sebagian besar kenaikan pascarilis data. Secara mingguan, emas masih berada di jalur penurunan sekitar 3,3%.
NFP September hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi sekitar 90.000, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Pertumbuhan upah juga hanya mencapai 0,1% secara bulanan dan 3,0% secara tahunan. Data tersebut sempat memicu aksi beli emas karena pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Namun, respons positif tersebut tidak bertahan lama. Dolar dan imbal hasil Treasury yang masih tinggi kembali menjadi penghambat utama emas. Sebelumnya, yield Treasury 10 tahun dan 30 tahun telah mencapai level tertinggi sejak 2002. Walaupun yield kemudian turun setelah NFP, levelnya masih cukup tinggi untuk menjaga opportunity cost memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Dari sisi kebijakan moneter, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober memang turun tajam setelah data tenaga kerja keluar. Namun, pasar belum sepenuhnya menghapus kemungkinan pengetatan berikutnya. Selain itu, inflasi AS masih berada di atas target 2%, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal II direvisi naik menjadi 2,2%. Artinya, NFP yang lemah belum otomatis mengubah keseluruhan stance kebijakan The Fed.
Analisis Newsmaker :
Pergerakan emas malam ini menunjukkan bahwa data NFP yang lemah belum cukup untuk membentuk tren bullish baru. Pasar memangkas ekspektasi rate hike dan secara fundamental kondisi tersebut positif bagi gold, tetapi yield Treasury dan dolar yang masih relatif kuat membuat investor belum agresif mengejar kenaikan emas. Jika yield terus turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin berkurang, emas berpotensi mendapatkan momentum kembali. Sebaliknya, jika yield kembali naik, penurunan emas dapat berlanjut meskipun pasar tenaga kerja AS sedang melemah.
Sumber: Newsmaker.id