
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (2/10) setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Spot gold naik sekitar 0,2% ke US$4.187,17 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas menguat 0,3% ke US$4.215,82. Meski demikian, emas masih berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Data Non-Farm Payrolls September menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi 89.000 dan lebih rendah dari 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2%, di atas perkiraan 4,1%, memperkuat tanda bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Laporan tersebut langsung mengubah ekspektasi kebijakan The Fed. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 84% bahwa suku bunga akan dipertahankan pada pertemuan Oktober, naik dari 76% sehari sebelumnya. Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga turun menjadi sekitar 16%, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 64% sepekan lalu.
Sentimen emas juga mendapat dukungan dari penurunan yield Treasury. Yield tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,234%, setelah sebelumnya sempat menyentuh 5,344%, tertinggi sejak 2002. Dolar AS juga melemah tipis, meski masih berada dekat level tertinggi dalam 17 bulan.
Namun, tekanan terhadap emas belum sepenuhnya hilang. The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga pada September untuk meredam inflasi yang masih tinggi, sementara harga energi dan belanja besar di sektor AI tetap menjadi risiko terhadap tekanan harga. Kondisi ini membuat pasar belum sepenuhnya menutup kemungkinan pengetatan tambahan di kemudian hari.
Analisis Newsmaker: NFP yang lemah menjadi katalis positif bagi emas karena menurunkan peluang kenaikan bunga Oktober dan menekan yield. Namun, penguatan dolar serta risiko inflasi yang belum sepenuhnya reda masih membatasi kenaikan. Jika pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut, emas berpotensi mendapat dukungan lebih kuat dari ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih dovish. (asd)
Sumber: Newsmaker.id