
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10) meskipun data terbaru menunjukkan tekanan inflasi kawasan euro kembali meningkat. Indeks Stoxx Europe 600 naik 1%, sementara DAX Jerman menguat 1,1%, CAC 40 Prancis naik 0,7%, FTSE 100 Inggris bertambah 0,3%, dan Swiss Market Index menguat 0,5%.
Inflasi tahunan zona euro diperkirakan mencapai 3,8% pada September, naik tajam dari 3,2% pada Agustus dan berada di atas ekspektasi analis sebesar 3,7%. Kenaikan terutama didorong oleh sektor energi, yang diperkirakan mencatat inflasi tahunan sebesar 18,8%, meningkat dari 14,3% pada bulan sebelumnya. Perkembangan ini kembali menjadi perhatian karena dapat mempersempit ruang kebijakan moneter yang lebih longgar dari Bank Sentral Eropa (ECB).
Di sisi pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran zona euro berada di 6,4% pada Agustus, tidak berubah dari Juli tetapi meningkat dibandingkan 6,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tingkat Uni Eropa, tingkat pengangguran juga stabil di 6,1%. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja relatif bertahan meskipun tekanan harga dan biaya energi meningkat.
Dari sektor korporasi, saham energi ikut menjadi perhatian setelah produksi minyak Kazakhstan turun pada September. Produksi di lapangan Karachaganak bahkan merosot menjadi sekitar 42.000 barel per hari dari 241.000 barel per hari pada Agustus akibat kegiatan pemeliharaan. Saham Eni naik 1,1% dan Shell menguat 0,3%. Sementara itu, saham Ryanair melonjak 3% setelah melaporkan jumlah penumpang September meningkat 4% menjadi 20,1 juta meskipun lebih dari 1.000 penerbangan dibatalkan.
Analisis Newsmaker:
Kenaikan bursa Eropa di tengah inflasi 3,8% menunjukkan investor belum sepenuhnya menganggap lonjakan harga sebagai penghambat langsung terhadap aset berisiko. Namun, inflasi energi yang tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap ECB untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi ini berpotensi menjaga yield obligasi Eropa tetap tinggi dan membatasi ruang penguatan euro, sementara saham akan tetap sensitif terhadap perkembangan harga energi, kebijakan ECB, dan prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.
Sumber: Newsmaker.id