
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (2/10) setelah mencatat penguatan dalam beberapa pekan terakhir, dengan investor memilih menahan posisi menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat. Indeks dolar berada di sekitar 101,9 setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan, sementara pasar masih mempertimbangkan arah kebijakan Federal Reserve di tengah tekanan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi global.
Perhatian utama pasar tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS September yang diperkirakan menunjukkan penambahan 90.000 pekerjaan, melambat dari 162.000 pada Agustus, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,1%. Data tersebut menjadi penting karena kekuatan pasar tenaga kerja dapat memengaruhi keputusan The Fed mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.
Di Jepang, yen mendapat dukungan setelah inflasi Tokyo meningkat dan memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat melanjutkan pengetatan kebijakan setelah kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September. Penguatan yen membuat USD/JPY bergerak lebih rendah, sementara pasar juga memperhatikan arah yield obligasi Jepang setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
Sementara itu, euro masih menghadapi tekanan setelah inflasi zona euro melonjak menjadi 3,8% pada September, dari 3,2% pada Agustus dan melampaui ekspektasi 3,6%. Inflasi inti juga naik menjadi 2,5%. Lonjakan harga energi menjadi faktor utama, sehingga ECB kembali menghadapi dilema antara mempertahankan kebijakan ketat untuk mengendalikan inflasi atau mempertimbangkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi.
Newsmaker melihat, NFP menjadi katalis utama pasar valuta asing hari ini. Data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi menopang USD dan yield Treasury, sekaligus memberi tekanan pada emas dan mata uang ber-yield lebih rendah. Sebaliknya, data tenaga kerja yang melemah dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan membuka ruang bagi USD untuk terkoreksi. Di sisi lain, inflasi Jepang dan Eropa membuat JPY dan EUR tetap sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan BOJ dan ECB.
Sumber: Newsmaker.id