
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak kuat pada perdagangan Jumat (2/10) di tengah tarik-menarik antara pemulihan pasokan Timur Tengah dan meningkatnya risiko geopolitik. Brent diperdagangkan di sekitar US$102,20 per barel, sementara WTI berada di US$95,10 per barel. Pasar masih mempertahankan premi risiko tinggi setelah pergerakan minyak melonjak tajam pada sesi sebelumnya.
Sentimen utama datang dari meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Amerika Serikat dilaporkan mempertimbangkan penambahan aset militer dan personel ke Timur Tengah, sementara keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Kondisi tersebut membuat pasar khawatir gangguan baru dapat kembali menghambat distribusi energi dari kawasan.
Di sisi lain, tekanan pasokan mulai sedikit mereda setelah ekspor minyak Arab Saudi menunjukkan pemulihan. Pengoperasian kembali East-West Pipeline dan aktivitas pengiriman dari Yanbu membantu meningkatkan aliran minyak tanpa sepenuhnya bergantung pada Hormuz. Pemulihan tersebut menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga lebih agresif.
Pasar produk olahan justru masih menghadapi kondisi ketat. China dilaporkan menangguhkan sejumlah ekspor bahan bakar pada Oktober untuk menjaga pasokan domestik, sementara AS mendorong negara-negara Eropa mempertimbangkan pelepasan cadangan diesel. Ketatnya pasokan diesel global membuat harga minyak tetap sensitif meskipun aliran minyak mentah mulai membaik.
Perhatian investor juga mulai bergeser ke pertemuan OPEC+ pada akhir pekan. Sejumlah sumber memperkirakan produsen utama akan mempertahankan target produksi November, sementara produksi sejumlah negara Teluk masih berada di bawah kuota akibat gangguan perang. Kebijakan OPEC+ akan menjadi katalis penting untuk menentukan keseimbangan pasokan memasuki bulan baru. Reuters
Analisis Newsmaker: Fundamental minyak saat ini masih cenderung ditopang oleh risiko geopolitik, pasar diesel yang ketat, dan kerentanan jalur pasokan Hormuz, sementara pemulihan ekspor Saudi menjadi faktor penahan kenaikan. Selama konflik AS–Iran belum menunjukkan deeskalasi dan pasokan produk olahan belum normal, harga minyak berpotensi tetap volatil di level tinggi. Keputusan OPEC+ serta perkembangan keamanan Timur Tengah akan menjadi pemicu utama arah berikutnya. (sdc)
Sumber: Newsmaker.id