
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (2/10) setelah investor menimbang risiko eskalasi konflik Timur Tengah dengan tanda-tanda pemulihan aliran pasokan dari kawasan tersebut. Brent crude futures untuk pengiriman Desember turun 2,7% ke US$99,69 per barel, sementara WTI merosot 3,5% ke US$89,64 per barel. Penurunan terjadi setelah kedua benchmark melonjak tajam pada perdagangan Kamis.
Kenaikan sehari sebelumnya dipicu laporan bahwa Washington mempertimbangkan pengerahan kelompok kapal induk tambahan dan pasukan ke Timur Tengah. Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik AS–Iran dapat kembali memanas dan mengancam jalur distribusi minyak dari kawasan Teluk. Pernyataan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan dimulainya kembali aksi militer terhadap Iran setelah pemilu November turut menjaga premi risiko geopolitik di pasar energi.
Perhatian utama investor tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting perdagangan energi global. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker maupun infrastruktur minyak di kawasan tersebut berpotensi kembali mengurangi pasokan dan mendorong harga crude lebih tinggi. Karena itu, meskipun harga turun, pasar masih sensitif terhadap setiap perkembangan militer dan diplomatik dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, prospek pasokan mulai menunjukkan perbaikan. Arab Saudi telah kembali mengoperasikan East-West Pipeline dan melanjutkan pemuatan tanker dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Pemulihan tersebut memberikan alternatif bagi pengiriman minyak Saudi tanpa sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz, sehingga membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan.
Newsmaker melihat, harga minyak saat ini berada di antara dua kekuatan utama: pemulihan pasokan dan risiko eskalasi geopolitik. Jika aliran minyak dari kawasan Teluk terus membaik, Brent berpotensi bertahan di bawah US$100. Namun, jika konflik AS–Iran kembali meningkat dan mengganggu lalu lintas di sekitar Hormuz, premi risiko dapat kembali melonjak dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Pergerakan oil juga akan menjadi faktor penting bagi inflasi global, ekspektasi suku bunga, dolar AS, dan emas.
Sumber: Newsmaker.id