
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar Amerika Serikat bertahan di sekitar level 101 pada perdagangan Selasa (6/10), dekat dengan posisi terkuat sejak April 2025. Penguatan dolar masih ditopang oleh tekanan terhadap euro akibat meningkatnya ketidakpastian politik dan kekhawatiran fiskal di Eropa. Euro sebelumnya merosot tajam setelah investor mencemaskan kondisi utang Prancis serta ketidakpastian politik di sejumlah negara kawasan.
Tekanan terhadap euro semakin besar setelah kondisi fiskal Prancis kembali menjadi perhatian pasar. Tingginya utang pemerintah dan kebuntuan politik meningkatkan kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah mengendalikan keuangan negara. Selain Prancis, rencana pemilu mendadak di Spanyol turut menambah ketidakpastian politik Eropa. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Di Amerika Serikat, dolar juga mendapatkan dukungan dari kenaikan yield Treasury. Yield obligasi AS tenor panjang kembali mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade di tengah aksi jual obligasi global. Kekhawatiran mengenai meningkatnya utang pemerintah, risiko inflasi, serta kebutuhan pembiayaan perusahaan membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.
Sementara itu, data ISM Services menunjukkan tekanan biaya sektor jasa AS meningkat dengan cukup signifikan. Kenaikan harga yang dibayarkan perusahaan jasa menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi masih belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini membuat pasar harus menyeimbangkan dua perkembangan yang berlawanan: pasar tenaga kerja AS mulai melemah, tetapi tekanan harga masih cukup kuat. Ekspektasi pasar kini menunjukkan sekitar 78% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober.
Saat ini Dolar masih memiliki fondasi yang cukup kuat dalam jangka pendek selama yield Treasury tetap tinggi dan tekanan terhadap euro berlanjut. Namun, penguatan dolar bisa menghadapi hambatan apabila yield mulai turun dan pasar semakin yakin The Fed akan menahan suku bunga lebih lama. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada FOMC Minutes untuk melihat apakah para pejabat The Fed lebih mengkhawatirkan inflasi atau mulai memberi perhatian lebih besar terhadap pelemahan pasar tenaga kerja.