
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak relatif terbatas setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir, seiring meningkatnya ekspor dari kawasan Teluk Persia dan pemangkasan harga jual minyak Arab Saudi yang memperkuat indikasi melonggarnya kondisi pasokan. Berdasarkan perdagangan terbaru, Brent berada di sekitar US$100,30 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$91,21 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak muncul ketika produsen di kawasan Teluk mulai meningkatkan volume pengiriman melalui Selat Hormuz. Semakin banyak kapal tanker disebut bersedia melintasi jalur strategis tersebut meskipun risiko keamanan masih tinggi. Pemulihan arus pengiriman ini meningkatkan ekspektasi bahwa gangguan pasokan akibat konflik Iran mulai berkurang dibandingkan periode sebelumnya.
Kuwait menyatakan produksi minyaknya telah mencapai sekitar 75% dari level sebelum perang Iran, sementara Irak berupaya menambah kapal untuk mengangkut minyak melalui Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Saudi Aramco memangkas harga jual resmi Arab Light untuk pembeli Asia hingga mencapai level terendah dalam enam tahun terakhir, langkah yang dinilai sebagai upaya mempertahankan sekaligus memperbesar pangsa pasar di kawasan.
Meski aliran minyak mentah Timur Tengah terus pulih, harga Brent masih berada jauh di atas posisi awal tahun setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran mengganggu pasokan energi global. Pengiriman produk olahan juga masih menghadapi kendala, termasuk akibat serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Kondisi tersebut membuat risiko pasokan global belum sepenuhnya hilang.
Tanda-tanda pelonggaran pasar juga terlihat dari menyempitnya prompt spread WTI, yakni selisih antara dua kontrak berjangka terdekat. Spread tersebut berada sekitar US$1,28 per barel dalam kondisi backwardation, jauh lebih rendah dibandingkan US$4,69 dua pekan sebelumnya. Penyempitan spread menunjukkan kebutuhan terhadap minyak untuk pengiriman segera mulai berkurang, sekaligus mengindikasikan pasar jangka pendek tidak lagi seketat sebelumnya.
Namun, risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat menahan penurunan harga. Pertempuran di Yaman dan potensi gangguan di Bab el-Mandeb masih mengancam jalur pengiriman energi utama Arab Saudi. Pasar juga menantikan laporan Short-Term Energy Outlook dari Badan Informasi Energi AS (EIA) untuk melihat prospek pasokan dan permintaan energi. Dengan pasokan Timur Tengah yang mulai pulih tetapi risiko konflik tetap tinggi, pergerakan minyak diperkirakan masih volatil di sekitar level US$100 untuk Brent.(gn)
Sumber: Newsmaker.id