
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat pada perdagangan Senin (5/10) setelah euro merosot ke level terendah dalam hampir 17 bulan. Indeks dolar naik 0,2% ke 102,14, level tertinggi sejak April 2025, sementara euro sempat jatuh ke sekitar US$1,116 sebelum sedikit pulih. Pelemahan euro terutama dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan risiko politik menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Tekanan terhadap aset Prancis semakin besar setelah terjadi aksi jual tajam pada obligasi pemerintah. Yield obligasi Prancis tenor dua tahun melonjak sekitar 76 basis poin, sementara selisih yield obligasi Prancis dan Jerman tenor 10 tahun melebar melewati 140 basis poin, menjadi yang tertinggi sejak krisis utang Eropa 2012. Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai meminta premi risiko yang lebih besar untuk memegang aset Prancis.
Masalah fiskal menjadi perhatian utama karena defisit Prancis diperkirakan mencapai 5,4% dari GDP tahun ini, sementara utang pemerintah mendekati 120% dari GDP. Pemerintah telah mengajukan anggaran 2027 dengan target menurunkan defisit menjadi 5% melalui rencana penghematan sekitar 54 miliar euro. Namun, ketidakpastian politik membuat pasar meragukan seberapa mudah rencana tersebut dapat dijalankan.
Di Amerika Serikat, yield Treasury justru kembali meningkat setelah pasar obligasi mengalami aksi jual. Yield Treasury 10 tahun naik ke sekitar 5,31%, sedangkan tenor 30 tahun berada di sekitar 5,66%, keduanya masih di level tinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi dolar, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober telah turun menjadi sekitar 20% setelah data NFP dan inflasi menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Analisa Newsmaker :
Penguatan dolar saat ini lebih banyak didorong kombinasi kelemahan euro dan tingginya yield AS daripada ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada FOMC Minutes yang akan menjadi petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja. Jika yield tetap tinggi dan risiko fiskal Eropa memburuk, dolar masih berpeluang mempertahankan momentumnya. Namun, penurunan yield AS dapat membuka ruang bagi euro dan mata uang utama lainnya untuk melakukan rebound.
Sumber : Newsmaker.id