
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Euro kembali melemah pada perdagangan Senin (5/10) dan bergerak di sekitar US$1,117, level terendah sejak Mei 2025. Tekanan terhadap mata uang tunggal Eropa meningkat seiring memburuknya kekhawatiran fiskal dan politik di kawasan, sementara dolar AS tetap menunjukkan ketahanan.
Sentimen negatif bertambah setelah muncul laporan bahwa sejumlah pejabat pemerintah dan Partai Sosialis Spanyol mendukung kemungkinan pemilu lebih awal menyusul kekalahan besar pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sánchez di parlemen. Kondisi tersebut menambah ketidakpastian politik Eropa yang sebelumnya sudah dibayangi persoalan fiskal Prancis.
Dari sisi ekonomi, tekanan inflasi Zona Euro kembali meningkat. Inflasi kawasan melonjak menjadi 3,8% pada September, level tertinggi dalam tiga tahun dan jauh di atas target European Central Bank (ECB) sebesar 2%. Tingginya harga energi menjadi salah satu faktor yang menjaga tekanan harga tetap kuat.
Situasi ini menempatkan ECB dalam posisi sulit. Inflasi yang tinggi membuka kebutuhan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, namun kenaikan biaya energi dan ketidakpastian politik berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Pasar pun memperkirakan ECB akan lebih berhati-hati dalam menentukan kenaikan suku bunga berikutnya.
Di sisi lain, dolar AS masih bertahan kuat meskipun laporan tenaga kerja AS terbaru menunjukkan perlambatan signifikan. Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober memang menurun, tetapi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven masih memberikan tekanan tambahan terhadap euro.
Analisis Newsmaker: Euro saat ini menghadapi kombinasi tekanan dari ketidakpastian politik, risiko fiskal, inflasi tinggi, dan dolar AS yang tetap kuat. Selama situasi politik Spanyol dan Prancis belum mereda, EUR/USD berpotensi tetap tertekan. Namun, arah berikutnya juga akan bergantung pada kebijakan ECB dan seberapa jauh pelemahan ekonomi AS mengubah ekspektasi suku bunga The Fed. (asd)
Sumber: Newsmaker.id