
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Asia menguat pada awal perdagangan pekan ini setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lemah mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga. Indeks saham Asia-Pasifik naik, sementara saham Jepang menjadi salah satu penggerak utama. Sentimen positif juga didukung kenaikan kontrak Nasdaq setelah indeks teknologi AS mencatat rekor pada perdagangan sebelumnya.
Laporan NFP September menunjukkan perusahaan AS hanya menambah 29.000 pekerja, jauh di bawah perkiraan pasar. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2%, sementara pertumbuhan upah melambat. Data tersebut membuat pasar menilai The Fed memiliki alasan lebih kuat untuk menahan suku bunga pada pertemuan Oktober. Peluang kenaikan suku bunga kini berada di bawah 25%, sehingga tekanan terhadap aset berisiko mulai berkurang.
Namun, pasar minyak bergerak berlawanan dengan saham. Harga Brent kembali menguat setelah Yaman melancarkan upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Risiko konflik di kawasan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi. Harga minyak juga tetap mendapat perhatian meskipun negara-negara utama OPEC+ sepakat mempertahankan kuota produksi pada bulan berikutnya.
Di pasar obligasi, tekanan belum sepenuhnya mereda. Yield Treasury AS tetap tinggi meskipun sempat turun setelah rilis NFP. Kekhawatiran terhadap inflasi, peningkatan belanja pemerintah, serta kebutuhan pembiayaan perusahaan untuk pengembangan teknologi AI masih mendorong aksi jual obligasi. Pekan ini, lelang Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun akan menjadi ujian penting untuk melihat seberapa besar minat investor terhadap surat utang jangka panjang.
Newsmaker melihat, perhatian pasar kini beralih ke FOMC Minutes yang akan dirilis Rabu. Investor akan mencari petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap inflasi dan kondisi tenaga kerja setelah keputusan suku bunga terakhir. Jika minutes menunjukkan sikap lebih dovish, saham dan emas berpeluang mendapat dukungan. Namun, jika kekhawatiran inflasi masih dominan, yield dan dolar berpotensi kembali naik dan menekan aset berisiko.