
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak turun pada perdagangan Selasa setelah pasokan minyak dari Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Brent turun sekitar 0,8% ke US$99,49 per barel, sementara WTI melemah sekitar 1,1% ke US$88,43. Meningkatnya pasokan membuat kekhawatiran pasar terhadap kekurangan minyak global mulai berkurang.
Data menunjukkan aliran minyak dari negara-negara Teluk, di luar Iran, telah pulih hingga lebih dari 81% dibandingkan kondisi sebelum konflik. Arab Saudi menjadi salah satu negara yang mampu mempertahankan ekspornya meskipun kawasan masih menghadapi risiko keamanan. Saudi juga menurunkan harga jual resmi minyak Arab Light untuk pengiriman ke Asia, yang dinilai sebagai tanda bahwa kondisi pasokan mulai membaik.
Tekanan terhadap harga minyak semakin besar setelah negara-negara G7 sepakat melepas sekitar 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan darurat. Langkah tersebut bertujuan menjaga ketersediaan energi di pasar sekaligus mengurangi risiko lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah. G7 juga berjanji menghindari pembatasan ekspor energi agar aliran pasokan global tetap terjaga.
Meski demikian, risiko geopolitik masih menjadi perhatian. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran masih berlangsung, sementara serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di sekitar kawasan Selat Hormuz terus menimbulkan kekhawatiran. Karena itu, meskipun tekanan harga minyak saat ini cenderung turun, potensi gangguan pasokan masih dapat memicu kenaikan harga kembali jika situasi keamanan memburuk.
Dampaknya ke Market :
Minyak: cenderung bearish selama ekspor Timur Tengah terus pulih dan tambahan pasokan dari cadangan G7 masuk ke pasar. Namun, risiko geopolitik masih bisa memicu rebound sewaktu-waktu.
Inflasi: harga minyak yang lebih rendah bisa membantu menurunkan biaya energi dan transportasi, sehingga tekanan inflasi berpotensi ikut mereda.(CP)