
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak menguat pada perdagangan Kamis (8/10) setelah laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilakukan sebelum pemilu paruh waktu AS. WTI naik sekitar 0,6% ke US$88,84 per barel, sementara Brent sebelumnya ditutup di sekitar US$100,20 per barel. Laporan The Atlantic menyebut opsi militer masih dalam tahap pembahasan dan belum ada keputusan final.
Sentimen bullish juga datang dari Teluk Meksiko. Produsen minyak AS menghentikan sementara lebih dari 510.000 barel per hari, atau sekitar seperempat produksi kawasan tersebut, karena Tropical Storm Isaias. Badai itu diperkirakan menguat sebelum mencapai pesisir AS, sehingga berpotensi mengganggu produksi energi lebih lanjut.
Ketegangan Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang menopang premi risiko minyak. Konflik AS-Iran telah mengganggu ekspor sepanjang tahun, sementara serangan terhadap kapal tanker kembali meningkat meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih. US Central Command menyebut sekitar 20 juta barel minyak mengalir melalui Hormuz, meski estimasi industri terhadap volume aktual masih berbeda-beda.
Risiko regional juga bertambah setelah kelompok Houthi melancarkan serangan ke sejumlah bandara di Arab Saudi. Konflik antara Houthi dan pasukan yang didukung Riyadh terus meningkat di Yaman, terutama di sekitar jalur strategis Bab el-Mandeb yang menjadi salah satu rute penting perdagangan energi global.
Selain ancaman terhadap produksi dan jalur pelayaran, biaya logistik minyak ikut melonjak. Tarif pengiriman kapal tanker besar dari AS menuju Asia naik drastis seiring meningkatnya risiko keamanan dan kebutuhan mencari titik pemuatan yang lebih jauh. Kondisi ini menambah biaya rantai pasokan dan dapat mempertahankan tekanan harga energi meskipun volume ekspor mulai pulih.
Dari sisi fundamental AS, stok minyak mentah nasional turun 3,2 juta barel, sementara ekspor minyak dan produk energi mencapai level tertinggi sejak akhir Mei. Data tersebut menunjukkan permintaan ekspor tetap kuat dan memberi dukungan tambahan bagi harga minyak. Reuters juga melaporkan pasar masih menghadapi volatilitas tinggi akibat konflik kawasan, cuaca ekstrem, dan pelepasan cadangan darurat.
Analisa Newsmaker:
Sentimen minyak saat ini kembali cenderung bullish jangka pendek karena pasar menghadapi dua risiko sekaligus: potensi eskalasi AS-Iran dan gangguan produksi akibat badai di Teluk Meksiko. Namun, pemulihan ekspor Timur Tengah dan pelepasan cadangan minyak tetap menjadi penahan kenaikan. Jika ancaman militer terhadap Iran meningkat atau badai menyebabkan penghentian produksi lebih besar, premi risiko minyak berpotensi kembali naik tajam.
Sumber: Newsmaker.id