
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali melemah lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (7/10), turun ke sekitar level US$4.100 per troy ounce dan menyentuh posisi terendah dalam lebih dari satu bulan. Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah yield obligasi pemerintah bertenor panjang di sejumlah negara besar kembali melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kenaikan yield membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik bagi investor.
Dari Amerika Serikat, tekanan terhadap emas semakin besar setelah data aktivitas ekonomi menunjukkan pertumbuhan dan tekanan harga yang masih kuat. Kondisi tersebut membuat pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Yield Treasury yang meningkat menjadi faktor utama yang membebani emas karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Tekanan kemudian bertambah setelah FOMC Minutes September menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun. Seluruh 19 pejabat mendukung kenaikan suku bunga pada September, sementara sejumlah pejabat menilai tingkat suku bunga saat itu belum cukup membatasi aktivitas ekonomi. Nada tersebut memperlihatkan bahwa perang melawan inflasi masih menjadi prioritas The Fed.
Kondisi fiskal global juga ikut memperburuk tekanan di pasar obligasi. Kekhawatiran terhadap meningkatnya defisit anggaran di Amerika Serikat, Prancis, dan Jepang mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang. Jika tren kenaikan yield berlanjut, emas berpotensi menghadapi tekanan tambahan meskipun permintaan safe haven masih ada.
Newsmaker melihat, Gold kini memasuki fase koreksi setelah sentimen hawkish The Fed kembali mendapatkan perhatian pasar. Secara fundamental, tekanan masih terbuka selama yield Treasury dan dolar tetap tinggi. Area US$4.100 menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Jika mampu bertahan, emas berpeluang melakukan rebound ketika tekanan yield mereda. Namun, jika US$4.100 ditembus secara meyakinkan, risiko koreksi menuju area US$4.000 kembali terbuka.
Sumber: Newsmaker.id