
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali berada di bawah tekanan kuat pada perdagangan Rabu (7/10), hingga sempat menembus area psikologis US$4.100 per troy ounce. Tekanan terjadi setelah Dolar AS kembali menguat dan yield Treasury bertahan di level sangat tinggi menjelang publikasi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Sebelumnya, emas spot tercatat turun sekitar 1,1% ke US$4.119,01, sementara kontrak emas AS Desember melemah sekitar 1% ke US$4.145,50. Reuters
Faktor utama yang menekan emas adalah penguatan Greenback. Indeks Dolar AS naik sekitar 0,5%, membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini terjadi ketika pasar kembali memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed belum selesai menaikkan suku bunga. Meski peluang kenaikan pada Oktober mengecil setelah data tenaga kerja AS melemah, pasar masih memperkirakan sekitar 86% peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Reuters
Tekanan semakin besar dari pasar obligasi. Yield Treasury AS jangka panjang kembali meningkat, dengan yield 30 tahun sempat menyentuh sekitar 5,704%, level tertinggi dalam 24 tahun. Yield 10 tahun juga bertahan dekat area 5,3%. Kenaikan yield membuat obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga, sehingga mendorong investor mengurangi eksposur terhadap logam mulia. Reuters
Selain itu, harga minyak kembali naik ke atas US$100 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Brent sempat naik sekitar 1,2% ke US$101,83 per barel. Kenaikan energi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Mekanisme inilah yang membuat sentimen geopolitik kali ini belum mampu memberikan dukungan penuh kepada emas sebagai safe haven. Reuters
Pasar juga semakin berhati-hati menjelang FOMC Meeting Minutes dari pertemuan September. Pada pertemuan tersebut, The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%. Risalah tersebut diperkirakan akan memperlihatkan seberapa besar dukungan pejabat The Fed terhadap kenaikan lanjutan, terutama setelah muncul perbedaan pandangan antara pejabat yang masih fokus pada inflasi dan mereka yang mulai lebih memperhatikan perlambatan tenaga kerja. Reuters
Secara teknikal, penembusan US$4.100 turut mempercepat tekanan jual. Level tersebut sebelumnya menjadi support psikologis penting. Ketika support ditembus, aksi stop-loss dan penjualan teknikal berpotensi memperbesar momentum bearish, terutama karena emas sudah berada dalam tren koreksi sejak akhir September.
Meski demikian, tekanan jangka pendek belum menghapus dukungan fundamental emas dalam jangka lebih panjang. Kekhawatiran terhadap utang pemerintah, risiko geopolitik, tekanan inflasi, serta pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi faktor penopang. Reuters mencatat People's Bank of China masih melanjutkan pembelian emas, sementara pelaku industri di konferensi LBMA bahkan tetap melihat prospek bullish jangka panjang. Reuters
Analisis Newsmaker: Penurunan emas di bawah US$4.100 saat ini lebih banyak disebabkan oleh kombinasi Dolar AS yang menguat, yield Treasury tinggi, dan ekspektasi kenaikan bunga Desember. Selama tiga faktor tersebut belum mereda, rebound emas berpotensi terbatas. Fokus utama pasar kini tertuju pada FOMC Minutes; nada hawkish berpotensi memperpanjang tekanan, sementara sinyal bahwa The Fed mulai lebih berhati-hati dapat menekan yield dan dolar sekaligus membuka peluang Gold kembali merebut area US$4.100.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id